Jumat, 28 Juli 2023

MEMBUAT CHARCOAL ATAU ARANG KAYU MODERN

 Arang yang dikenal masyarakat adalah untuk membakar sate. Arang membara yang dicelupkan di kopi seperti kopi jos di Jogja sudah dianggap ekstrem. Tapi rupanya charcoal juga diterjemahkan sebagai arang aktif atau activated charcoal, yang wujud dan manfaatnya berbeda.


Arang pada umumnya dibuat dengan cara memanaskan atau membakar gula, tulang, kayu, atau benda lain. Arang yang berwana hitam, mudah hancur, ringan, dan menyerupai batu bara ini memiliki zat yang terdiri dari 85% hingga 98% karbon, dan sisanya adalah abu ataupun benda-benda kimia lainnya.

Arang kayu adalah salah satu jenis arang yang bahan dasarnya terbuat dari kayu. Arang kayu adalah arang yang paling banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti memasak.

Selain berfungsi untuk keperluan rumah tangga, fungsi lain dari arang kayu adalah sebagai media untuk menjernihkan air, penggunaan arang dalam berbagai bidang kesehatan, dan masih banyak fungsi lainnya. Bahan baku kayu yang digunakan untuk membuat arang kayu adalah kayu dalam kondisi yang masih bagus, dan dalam hal ini artinya kayu tersebut belum dalam kondisi membusuk.

BEBERAPA CARA PEMBUATAN ARANG

1. Cara Konvensional

Pada metode pembuatan arang dengan kiln baik earth maupun portable kiln, kayu langsung berhubungan dengan pemanas atau api dan tujuan utamanya memproduksi arang kayu. Metode kiln yang sangat sederhana adalah pembuatan arang dengan timbunan tanah. Prinsip kerjanya adalah kayu yang membara memberikan panas untuk berlangsungnya proses pengarangan. 

Keuntungan pembuatan arang dengan cara timbun diperoleh kemudahan dalam penetapan lokasi pengarangan, penyesuaian timbunan dengan jumlah bahan baku yang tersedia dan dalam memproduksi arang dapat dilakukan dengan modal yang kecil. Selain itu, metode timbun juga mempunyai kelemahan yaitu proses karbonisasi tidak dapat diamati secara cermat atau sulit dikontrol dan proses pengarangan memerlukan waktu lama serta rendemen arang umumnya rendah.

Pada pembuatan arang dengan menggunakan metode lubang tanah, yang perlu diperhatikan adalah pemilihan lokasi pembuatan lubang tungku. Lokasi pembuatan lubang terletak relatif terlindung dari pengaruh hujan serta agak landai agar memudahkan didalam kegiatan pembuatan arang nantinya. Kelebihan pembuatan arang dengan menggunakan metode tungku lubang tanah adalah volume kayu serta ukuran bahan baku dari limbah yang digunakan relatif lebih besar.Lubang digali dalam tanah dengan ukuran 1 x 2 x 3 m, pada dasar lubang dimasukkan sedikit bahan baku kemudian dibakar setelah itu bahan tersebut ditambahkan secara bertahap sampai mencapai permukaan lubang. Air dipancarkan/dipercikkan bila dalam proses pembakaran timbul nyala api. Jika proses pembakaran telah selesai maka seluruh permukaan lubang ditutup dengan daun dan batang kemudian dibiarkan sampai dingin. Metode ini menghasilkan arang dengan mutu rendah dan umumnya hanya untuk keperluan rumah tangga.



2. Cara Kiln Drum

Pembuatan arang dengan cara kiln drum umumnya digunakan untuk tujuan komersil. Dengan metode drum, karbonisasi dapat diamati dan diawasi melalui pengatur udara masuk dan tidak tergantung dari cuaca pada saat itu. Carakiln drum ini cocok dikembangkan bagi penduduk yang berada di sekitar hutan guna untuk mengurangi limbah tebangan dari areal hutan produksi. Kiln ini terbuat dari besi yang terdiri atas dua buah silinder dipasang secara bersambung. Cara kerjanya adalah panas berasal dari bahan baku kayu itu sendiri yang dibantu oleh udara dari luar yang diatur menurut kapasitas kilntersebut. Portable kiln memerlukan waktu pengarangan ± 4 (empat) hari untuk kapasitas 9 – 10 m³ kayu dengan hasil arang ± 1800 kg.

Sebelum melaksanakan pembakaran terlebih dahulu alat dibersihkan dari sisa abu yang tertinggal di dasar drum. Selanjutnya pada dasar drum diberi beberapa kayu atau kertas dan dibakar, kemudian dibiarkan sampai bahan tersebut menyala, kemudian ditambahkan setengah dari drum ke dalam tungku pembakaran, pada tahap ini harus dijaga agar bahan yang dibakar tidak menyala. Untuk tahap penambahan selanjutnya dilakukan apabila bahan yang sedang dibakar menyala dan tidak mau padam walaupun telah ditutup penutup drumnya. Banyaknya penambahan sama dengan penambahan pertamanya. Pekerjaan ini dilakukan sampai drum pembakaran penuh, setelah itu bahan yang ditambahkan terkarbonisasi drum ditutup tapi lubang kecil tetap dibiarkan terbuka. Setelah ada tanda-tanda asap putih kebiruan yang halus keluar dari lubang kecil penutup drum maka lubang tersebut ditutup rapat dan akhirnya drum dibiarkan sampai bahan terkarbonisasi penuh dikeluarkan dari drum pembakaran.

3. Cara Kiln Bata dan Beton

Kiln bata merupakan modifikasi dari model Thailand yang dirancang untuk kemudahan operasi dan kualitas arang yang dihasilkan. Dengan menggunakan dinding terbuat dari bata yang diplester atau kombinasinya dengan campuran pasir dan semen, maka kiln dapat dibuat dalam ukuran besar dan permanen sehingga bahan baku dapat terkontrol sehingga waktu proses lebih cepat serta menghasilkan arang dalam jumlah lebih banyak, seragam dan kualitas yang lebih baik. Perkembangan lanjut tipe ini mengarah pada variasi bentuk dinding, atap, bahan kontruksi, jumlah cerobong asap, lubang pengapian dan ukuran pintu pemasukan bahan baku.

Kiln terdiri atas ruang pembakaran, pintu pemasukan kayu, lubang pembakaran, lubang udara, lubang penguapan dan cerobong asap. Badan dan atap kiln terbuat dari bata, dengan ukuran diameter 2,2 m dan tinggi 1,6 m. Lubang pembakaran berjumlah 2 buah, lubang udara 6 buah, lubang penguapan 4 buah, cerobong asap 1 buah dan pintu pemasukan kayu 1 buah. Ukuran kayu berdiameter 10 – 25 cm dan panjang antara 25 – 50 cm, lama proses pengarangan dari saat pembakaran sampai arang dikeluarkan dari kiln adalah 2,5 hari (55 jam) atau seluruhnya memerlukan siklus waktu 6 – 7 hari.




CARA MEMBUAT ARANG SECARA MODERN DENGAN MENGGUNAKAN DRUM

  1. Tentukan tempat di mana Anda bisa membuat api . Anda bisa menggunakan api di halaman belakang, atau bisa menggunakan tempat lain setelah meminta izin terlebih dahulu. Periksa aturan di sekitar Anda tentang hal ini agar tidak ada.
  2. Siapkan drum logam . Gunakan drum ini untuk memasukkan kayu. Pilih ukuran drum sesuai kebutuhan Anda, tergantung banyak arang yang mau Anda buat. Pastikan drum Anda memiliki tutup yang kedap dengan api agar tidak meleleh saat pembakaran.
  3. Pilih kayu yang akan Anda buat menjadi arang . Pilih kayu yang sudah kering. Kayu cherry atau kayu oak, semua bisa Anda gunakan. Cari tahulah jika di sekitar Anda ada orang yang menjual kayu, atau belilah di toko sekitar. Potong kayu menjadi ukuran 4 inchi.
  4. Isi drum dengan kayu yang sudah kering. Isi drum dengan kayu yang sudah kering dan hingga ke bagian atas, Kemudian tutup drum secara rapat, tapi jangan sampai kedap udara.
  5. Persiapkan untuk membuat api . Beli atau juga bisa mengumpulkan kayu untuk membuat api yang akan menyala selama 3 – 5 jam. Nyalakan api pada tempat yang Anda pilih. Gali lubang di bagian tengah untuk meletakkan drum. Pastikan drum tertutup oleh kayu.
  6. Nyalakan api . Jika Anda menggunakan drum besar berisi kayu, biarkan menyala selama 3 jam atau lebih. Biarkan api menyala hingga padam dan mendingin sebelum Anda menyalakan drum.
  7. Angkat arang kayu . Saat Anda buka tutup drum, angkat dan gunakanlah untuk memasak beragam makanan yang Anda sukai.



Kamis, 25 Mei 2023

BUDIDAYA KLANCENG YANG BERKELANJUTAN


Budidaya madu kelulut ini sangat bermanfaat. Membudidayakan trigona akan mendapat manfaat antara lain adalah manfaat secara ekologis. Hal tersebut dikaitkan dengan proses penyerbukan oleh lebah pada tanaman atau tumbuhan disekitarnya. Keberadaan lebah dialam juga merupakan indikator lingkungan. Bila lingkungan tercemar atau rusak, produksi madu juga menurun. Koloni lebah juga akan berpindah sarang bila terjadi kerusakan lingkungan di sekitar kawasan pembudidaya. Sedangkan manfaat ekonomi diperoleh untuk menghasilkan produk-produk yang dihasilkan lebah Trigona Sp. Tidak hanya madu, namun juga para peternak akan menghasilkan propolis dan bee pollen. Manfaat sosial adalah sebagai sumber penghasilan menambah pendapatan keluarga.  Disisi lain, hasil panen madu selain dijual juga dapat digunakan untuk kepentingan keluarga. Tentunya untuk menjaga imunitas tubuh, mencegah berbagai penyakit dan seluruh anggota keluarga pun menjadi sehat.


Di alam, Trigona bersarang di pohon lapuk dan di ruas pohon bambu. Pohon bambu diambil 2 (dua) ruas yang menjadi tempat bersarang Trigona, koloni menggunakan sarang di ruas bambu bagian atas untuk meletakkan telur dan berkumpulnya koloni, sedangkan di bagian bawah digunakan sebagai penyimpan madu dan bee polen. Bambu yang berisi koloni dan madu Trigona ditebang dan diusahakan menebang dan membawa koloni pada sore hari agar semua anggota koloni pulang ke sarang dan tidak ada anggota koloni yang tertinggal.

Perkembangan koloni lebah kelulut dalam memproduksi madu cukup beragam. Selama 2 bulan sampai 6 bulan adalah rentang waktu bagi jenis Trigona sp untuk memproduksi madu. Dalam rentang waktu tersebut, kotak sarang didiamkan tanpa membuka tutupnya. Hal ini bertujuan agar koloni beserta ratunya merasa aman dan fokus dalam memproduksi madu. Namun, hanya dilakukan pemeliharan seperti pembersihan predator alami seperti, sarang laba-laba, pembersihan dari sarang semut, dan pengecekan kondisi sarang jika terkena air hujan



Program berkelanjutan merupakan program jangka panjang dalam Budidaya Madu Klanceng. Program ini dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. Penjualan stup/koloni, ini dapat dilakukan setelah terjadi pemecahan koloni (pemecahan koloni dapat dilaksananakan setelah 6 bulan). Koloni Lebah Klanceng yang telah berkembangbiak akan dipecah menjadi 2 koloni. 
  2. Penjualan madu dan produk turunannya. Dari 1 koloni didapatkan kurang lebih 50 ml madu murni dan membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 4 bulan dalam tiap musim panen. 

Budidaya Lebah Klanceng ternyata memungkinkan didapatkannya beberapa jenis komoditi selain madu klanceng murni. Lebah Klanceng dapat pula menghasilkan pollen, royal jelly, malam (lilin lebah) dan propolis. Pada tahun ke-1 dalam 1 koloni budidaya Madu Klanceng dapat menghasilkan 4 kali panen dalam setahun. Produksi rata-rata madu murni pada setiap 5 koloni lebah adalah 4 botol dengan ukuran 200 ml. Harga jual madu di pasaran sekira Rp. 80.000 per botol.

Pada periode tahun ke-2 Madu Klanceng dapat dipanen hampir tiap bulan. Pada periode musim hujan jumlah produksi madu relatif meningkat yang disebabkan oleh jumlah dan ketersediaan pangan lebah madu yang melimpah. 

Hasil pendapatan Budidaya Madu Klanceng cukup menguntungkan sebagai usaha yang di jalankan dengan pengeluaran rata-rata biaya produksi yang relatif rendah



Salah satu kunci sukses membudidayakan lebah trigona klanceng terletak pada pemilihan vegetasi. Pembudidaya harus memutar otak untuk menyediakan lahan vegetasi yang kaya sumber makanan bagi lebah. Terlebih lagi jika pembudidaya lebah hanya memiliki lahan terbatas. Namun, tak perlu khawatir lebah trigona klanceng tergolong lebah yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. 

Salah satu kunci sukses membudidayakan lebah trigona klanceng terletak pada pemilihan vegetasi

Meski lebah trigona klanceng dapat mencari makan sendiri melalui tanaman atau bunga-bunga kecil disekitarnya. Namun alangkah baiknya pembudidaya menyediakan vegetasi tanaman tersendiri yang lebih baik supaya lebah trigona klanceng menghasilkan madu yang berkualitas. Pembudidaya juga wajib memiliki kalender pembungaan untuk mengantisipasi terjadinya krisis pakan. Pastikan lahan vegetasi memiliki ketersediaan nektar, polen dan resin sepanjang tahun.

Jumat, 28 April 2023

PEMBUATAN LUBANG BIOPORI UNTUK MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN SEKITAR

Pacitan adalah salah satu daerah pesisir di Jawa Timur dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Berdasarkan letak dan luas daerah yang dimiliki Kabupaten Pacitan, kabupaten tersebut berada pada kawasan pesisir pantai dan merupakan bukit, gunung, jurang serta berada pada jajaran pegunungan seibu (Ring of Fire). Kabupaten Pacitan secara administrasi memiliki 12 Kecamatan dengan 7 diantaranya merupakan kawasan pesisir, 5 kelurahan dan 166 desa.
Adanya letak geografis suatu daerah sangat berpengaruh dalam melihat potensi bencana yang akan terjadi di wilayah tersebut. Misalnya sebuah daerah yang berada di lereng pegunungan aktif memiliki potensi bencana erupsi gunung berapi, sedangkan daerah perbukitan juga memiliki banyak potensi bencana seperti tanah longsor, banjir, dan lain sebagainya. Kabupaten Pacitan hampir memiliki beberapa kawasan yang rentan akan adanya potensi bencana alam. Beberapa kecamatan yang sebagian wilayahnya berupa pegunungan, perbukitan, pesisir sungai dan juga pesisir pantai menjadi wilayah yang berpotensi memiliki berbagai masalah kebencanaan, seperti bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan lain sebagainya
Banyaknya potensi bencana yang terjadi di Jawa Timur,telah menjadi perhatian lebih bagi pemerintah daerah dan juga masyarakat untuk bersinergi dalam mengurangi resiko buruk yang ditimbulkan bencana. Sebagai langkah pencegahan, kebijakan tentang kesiapsiagaandan mitigasi bencana bertujuan untuk meminimalkan korban jiwa dan juga kerusakan yang ditimbulkan. Bentuk-bentuk dari upaya mitigasi bencana adalah upaya pencegahan bencana melalui kegiatan pendidikan atau pelatihanan yang terstruktur.
Untuk meminimalisir kejadian potensu bwncana dimaksud dan meningkatkan konservasi air  untuk terjaminnya ketersediaan air bersih d, maka  upaya dimaksud sejak beberapa tahun terakhir telah melakukan Kegiatan Konservasi Sumberdaya Air melalui Pekerjaan Pembuatan Lubang Biopori dan Sumur Resapan 
Lubang biopori adalah sebuah lubang berbentuk silinder kebawah tanah yang dibuat ke dalam tanah secara vertikal untuk sebagai meningkatkan kemampuan serapan tanah terhadap air yang akan menjadi genangan air. Cara kerja lubang biopori ini yaitu meningkatkan kemampuan serapan tanah pada air yang berada dipermukaan caranya adalah dengan menciptakan lubang ditanah lalu lubang diisi dengan sampah organik. Yang nantinya dapat menghasilkan kompos dan memberikan manfaat yang baik untuk serangga ditanah sekitar lubang bioporis tersebut. Imbas positifnya adalah membuat tanah lebih subur sebab terdapat banyak pori-pori ditanah yang menyebabkan meningkatnya daya serap air .

Biopori dapat di buat di sekitar rumah kita. Manfaat biopori bagi lingkungan diantaranya adalah mengurangi sampah organik, menyuburkan tanah, mencegah terjadinya banjir dan lain sebagainya.
Langkah pembuatan :
  1. Tentukan lokasi pembuatan lubang biopori
  2. Jika sudah menemukan tempat, siramlah dengan air untuk membuatnya lebih lunak.
  3. Gunakan bor tanah untuk melubangi tanah. Buatlah lubang tegak lurus.
  4. Lubangi tanah dengan kedalaman 1 meter dengan diameter 10-30 cm.
  5. Lapisi dengan pipa PVC dengan ukuran yang sama dengan lubang biopori.
  6. Isilah dengan sampah organik.
  7. Tutup lubang biopori dengan kawat besi atau pipa PVC.

Lubang resapan biopori adalah lubang yang berbentuk tegak lurus. Biasanya lubang biopori berdiameter sekitar 10 hingga 20 cm Fungsi dari lubang biopori ini adalah untuk menimbun limbah organik. Pengisian lubang bipori dengan sampah organik ini bertujuan untuk konservasi air dan memberi makan makhluk hidup yang ada di tanah. 





TANAMAN AREN (arenga pinnata) UNTUK KONSERVASI

 Aren (Arenga pinnata Merr.) adalah pohon serbaguna yang sejak lama telah dikenal menghasilkan bahan-bahan industri. Hampir semua bagian fisik dan produksi tumbuhan ini dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. 

Kegunaan aren dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat baik di dalam maupun di sekitar hutan melalui penggunaan secara tradisional. Namun sayang tumbuhan ini kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan, sehingga pohon aren yang dimanfaatkan pada umumnya masih merupakan tumbuhan yang tumbuh liar di alam dan berkembang secara alami. Kerusakan hutan dan konversi kawasan hutan untuk Peruntukan lain telah menyebabkan populasi tumbuhan ini berkurang dengan cepat karena tidak diimbangi dengan kegiatan budidaya yang memadai. 

Pemanfaatan produksi buah yang diolah untuk menghasilkan kolang kaling dan pemanfaatan tepung dalam batang masih dilakukan secara terbatas dan belum banyak memberikan manfaat kepada masyarakat. Pemanfaatan produksi nira sebagai minuman segar atau sebagai bahan baku pengolahan gula telah banyak melibatkan dan memberikan manfaat kepada masyarakat di dalam dan sekitar hutan, sedangkan untuk pengolahan cuka dan alkohol masih sangat terbatas dan bahkan pengolahan nira aren untuk produksi nata masih pada tingkat hasil penelitian.


Jenis produk yang dihasilkan dari pohon aren yaitu sebagai berikut :

  • Ijuk sebagai bahan baku pembuatan peralatan keperluan rumah tangga.
  • Nira sebagai bahan baku gula merah, tuak, dan cuka.
  • Kolang-kaling yang dihasilkan dari buah pohon aren.
  • Tepung aren sebagai bahan baku pembuatan sabun, mie, dawet (cendol).
  • Batang pohon sebagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.

 

Contoh analisa ekonomi hasil pohon aren hanya dari produksi niranya saja

Dengan memakai asumsi produksi yang alami saja misalkan 10 liter nira/hari/pohon; jika 100 pohon yang disadap setiap harinya (dari populasi 250 pohon setiap hektar), maka akan diperoleh nira 1.000 liter/hari/ha. Rendemen gula merah dari nira sekitar 20-26,5 %, artinya dari 1.000 liter maka akan diperoleh sekitar 200-265 kg gula merah setiap hari. Kalau harga di tingkat petani Rp 5.000/kg, maka setiap hari pendapatan kotor petani aren dengan areal 1 hektar akan memperoleh sekitar Rp 1.000.000/hari/ha sampai dengan Rp 1.325.000/hari/ha.

Cara Budidaya Tanaman Aren

Cara budidaya tanaman aren cukup mudah dan cukup membuahkan hasil karena memiliki banyak manfaat. Jika anda berminat maka dibawah ini adalah cara menanam tanaman aren diantaranya sebagai berikut :

1. Syarat Tumbuh

Tumbuhan ini hanya dapat tumbuh di daerah dengan iklim basah dan sedang dalam ketinggian hingga 1400 mdpl.

Akan tetapi, tumbuhan ini alangkah lebih sempurna jika di tanam pada ketinggian 500 – 800 mdpl pada kisaran curah hujan 1200 mm per tiap tahunnya.

Baca Juga : Syarat Tumbuh Tanaman Aren

2. Pembibitan Tanaman Aren

Bibit dari tumbuhan ini bisa anda dapatkan dari hasil regenerasi secara alami dari benih. Tanaman aren yang memiliki kondisi kesehatan sempurna akan sangat baik jika benihnya di gunakan untuk benih.

Anda bisa memilih buah aren yang memiliki tingkat kematangan cukup tinggi yakni berwarna coklat serta berdaging lunak.

Buah ini lebih baik memiliki ukuran hingga besaran minimal 4 cm. bibit harus berasal dari buah yang sehat tanpa terserang penyakit apapun.

Jika anda sudah menemukan buah tersebut maka belah dan ambil bijinya. Pilih biji yang memiliki ukuran besar dengan warna yang hitam dengan sedikit kecoklatan serta tidak memiliki potensi keriput.

3. Penyemaian Biji Benih

Biji yang sudah anda dapatkan terlebih dahulu disemai. Proses ini akan memerlukan waktu yang cukup lama. Akan tetapi anda bisa mempercepatnya dengan cara sebagai berikut :

  1. Biji direndam dengan larutan yang memiliki kandungan HCI dalam waktu hingga 25 menit.
  2. Rendamlah biji dengan suhu air 50 derajat yakni selama kisaran waktu 3 menit.
  3. Anda bisa menggunakan plastik sebagai media semai dengan kisaran ukuran 20 x 25 cm.
  4. Isilah media dengan kompos, pasr dan tanah (perbandingan 3: 1: 1).
  5. Harus ada lubang pada bagian pada media plastik.
  6. Masukan biji kedalam media yang disiapkan.

4. Pemeliharaan Bibit Semai Aren

Pada bibit yang sudah siap pakai harus memiliki ukuran kisaran 40 cm dengan jangka waktu semai   hingga 15 bulan.

Dalam waktu tersebut anda juga harus melakukan perawatan yakni dengan menyiram tanaman hingga 2 kali dalam sehari (pagi dan sore).

Kemudian, lakukan juga penyiangan dalam upaya untuk membuat gulma di dalam tumbuhan ini menghilang serta berbagai penyakit tidak mampu mendekat.

5. Penanaman tanaman Aren

Tanaman satu ini memiliki sistem tanam monokultur yang biasa di kenal dengan tumpang sari. Anda bisa menggunakan sistem olahan yang sesuai lahan yang tersedia yakni dengan membersihkan lahan dari tanaman sebagai hama.  Kemudian anda harus melakukan pembajakan untuk menggemburkan tanah.

Lubang harus di buat kisaran ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 5 x 5 m. Setelah itu anda bisa memberikan pupuk untuk setiap lubangnnya.

Pupuk yang di gunakan adalah pupuk kandang dan urea. Kemudian, biarkan hingga 3 sampai 5 hari setelah itu anda bisa melakukan proses penanaman. Untuk sistem tanam tumpang sari membutuhkan lahan untuk menanam aren dan pelindungnya.

6. Pemupukan Tanaman

Anda bisa melakukan proses pemupukan yang berguna untuk membuat rangsangan pada tumbuhan agar cepat tumbuh. Proses ini harus di aplikasikan pada tanaman yang memiliki umur kisaran 1 hingga 3 th.

Pada proses pemupukan anda bisa memanfaatkan pupuk kandang, urea dan pupuk lainnya (organik). Gunakan metode tabur untuk memupuk tanaman ini di bagian sekitar batang yang sudah dalam kondisi tanah gembur.

7. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Aren

Hama pada tumbuhan ini adalah badak kumbang, kumbang sagu, belalang, lebah serta masih banyak lagi. Cara mengendalikan hama ini dengan menggunakan zat kimia atau juga bisa dengann cara mekanis.

Cara mekanis dengan cara memangkas batang pohon yang sudah terkontaminasi hama yang kemudian bagian tersebut di bakar.

Sedangkan, untuk metode zat kimia sendiri dengan cara menyemprot zat pestisida pada tanaman. Untuk mencegah penyakit pada tanaman ini maka anda bisa menyemprotkan zat fungisida pada tanaman tersebut.

8. Pencegahan Gulma

Anda bisa melakukan penyiangan hingga 4 kali pada tanaman yang sudah berusia 3 hingga 4 tahun.

Kesimpulan

Tanaman aren merupakan tanaman yang mudah tumbuh dalam kondisi lingkungan apapun oleh kerena itu dalam budidayanya tidaklah terlalu sulit yang terpenting harus adanya lahan yang cukup.

Hampir sebuah bagian pada tanaman aren bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Produk yang dihasilkan adalah batangnya yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, nira aren, bahan utama pembuatan gula merah, cuka, kolang kaling dan lainnya.

Jumat, 31 Maret 2023

AYO TANAM METE

 





Kacang mete saat ini tersebar di seluruh nusantara dengan sebutan nama yang berbeda-beda (di Sumatera Barat: kacang mete / monye jambu biji, di Lampung disebut gayu, di Jawa Barat disebut jambu mete, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamai jambu biji, di Jipang Bali atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut buah yaki.

Pedoman Budidaya Jambu Mete

1. Pembibitan

Untuk budidaya jambu mete dapat diperbanyak secara seksual melalui biji dan secara vegetatif dengan cara okulasi, okulasi, dan okulasi.
Bibit yang akan ditanam harus berasal dari pohon induk terpilih. Cara penanganan benih jambu mete untuk benih adalah:
  • Buah jambu mete / calon benih dipanen pada pertengahan musim panen.
  • Buah jambu mete harus sudah masak dan tidak cacat.
  • Biji jambu mete segera dikeluarkan dari buah semu lalu dicuci bersih, lalu disortir.
  • Keringkan biji jambu mete sampai kadar air 8-10%.
  • Saat dikemas dalam kantong plastik, aliran udara di ruang penyimpanan harus lancar dengan suhu antara 25-30 derajat C dan kelembaban: 70 -80%.
  • Lama penyimpanan benih selama ± 6 bulan, maksimal 8 bulan.
  • Sebelum ditanam benih (biji jambu mete) harus disemai terlebih dahulu.

2. Pengolahan Media Tanam

1. Persiapan

Sebelum tanam lahan harus dibersihkan terlebih dahulu, pH harus 4-6, tanah tanaman jambu mete sangat toleran terhadap lingkungan kering atau lembab, serta tanah kurang subur. Daerah dengan tanah liat, kacang mete masih bisa hidup dan berproduksi dengan baik. Jika penanaman kacang mete merupakan awal musim hujan, pengolahan sudah dimulai pada musim kemarau.

2. Pembukaan lahan

Lahan tersebut dibajak / ditambang sebelum musim hujan. Batang pohon dibuang dan dibakar, dan parit drainase dibuat untuk tanah yang drainasenya kurang baik. Lahan yang akan digunakan untuk budidaya kacang mete harus terbuka atau terkena sinar matahari dan dipersiapkan dengan sebaik mungkin.

3. Pemupukan

Pemberian pupuk kandang dimulai sebelum tanam. Sebaiknya bila tanaman masih kecil, pemupukan dengan pupuk kandang diulang dua kali setahun. Caranya dengan menggali lubang di sekitar batang, sedikit di luar lingkaran daun. pupuk atau kompos dimasukkan ke dalam lubang galian. Pemupukan selanjutnya dilakukan dengan cara menggali lubang, diluar lubang sebelumnya. Pemberian pupuk kandang dan kompos, kecuali dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah.

3. Teknik Penanaman

1. Penentuan Pola dan Jarak Tanam

Pada budidaya monokultur, jarak tanam yang dianjurkan adalah 12 x 12 m. Jadi di setiap satu ha lahan total jumlah tanaman yang dibutuhkan adalah 69 batang. Biasanya jarak tanam dibuat dengan ukuran 6 X 6 m, umumnya jumlah total tanaman yang dibutuhkan 276 batang / ha. Kepadatan tanaman kemudian diberi jarak pada umur 6-10 tahun.
Untuk efisiensi lahan, budidaya polikultur dapat diterapkan. Beberapa jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela. Misalnya palawija, rumput setaria, dan jambu mete. Bibit jambu mete hasil okulasi dapat ditanam dengan jarak 5 x 5 m, jika jarak tanam jambu mete 10 x 10 m. Kedua bentuk ini hanya bisa diaplikasikan di lahan datar. Pada lahan yang landai harus disesuaikan dengan garis kontur.
2. Pembuatan Lubang Tanam
Cara membuat lubang tanam:
  • Pertama tanah digali dengan ukuran: 30 x 30 x 30 cm. Jika tanah sangat liat maka dibuat lubang tanam dengan ukuran: 50 x 50 x 50 cm.
  • Lapisan batuan yang terdapat pada lubang tanam harus ditembus, agar akar dapat tumbuh sempurna dan terhindar dari genangan air.
  • Selama penggalian lubang, lapisan atas tanah dipisahkan ke Utara dan Selatan dan lapisan bawah ke Timur dan Barat.
  • Lubang tanam dibiarkan terbuka selama ± 4 minggu. Pada saat dilakukan penutupan lubang, lapisan tanah bagian bawah dikembalikan ke tempat semula, dilanjutkan lapisan atas yang dicampur dengan ± 1 pikul pupuk kandang.
  • Pada lubang tanam yang telah ditimbun dibuatkan peniti agar lubang tanam mudah ditemukan kembali.

3. Metode Penanaman

Penanaman bisa dilakukan 4-6 minggu setelah lubang tanam disiapkan. Untuk mengurangi keasaman tanahnya, maka alangkah baiknya pembuatan lubang tanam dilakukan pada musim kemarau. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
  • Benih yang akan ditanam dikeluarkan dari polybag. Tanah yang menempel pada akar dijaga agar tidak berantakan agar akar bibit tidak rusak.
  • Penanaman dilakukan sampai sebatas leher akar atau sedalam dulu di persemaian. Saat menggunakan benih hasil okulasi dan okulasi, pertahankan agar akar tunggang tetap lurus. Cobalah untuk menyebarkan akar cabang ke segala arah. Ujung yang patah / rusak harus dipotong.
  • Tanah di sekitar batang dipadatkan dan diratakan agar tidak ada rongga udara di antara akar dan tidak terjadi genangan air. Tanaman perlu ditopang bambu agar bisa tumbuh tegak.

4. Pemeliharaan Tanaman

1. Percikan

Bibit yang baru ditanam membutuhkan banyak air. Makan tanaman perlu disiram pada pagi dan sore hari secara rutin. Penyiraman dilakukan secukupnya dan penyiraman tidak sampai menggenangi tanaman.

2. Jahitan

Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 tahun. Jika umur tanaman ³ 3 tahun, umumnya pertumbuhan tanaman bordir kurang baik atau akan terhambat.

3. Penyiangan dan penyiraman

Biji jambu mete mulai berdaun dan bertunas setelah 2-3 bulan tanam. Penghapusan gulma harus dilakukan setiap 45 hari sekali. Untuk tanah yang disiram setiap hari maka semakin padat dan nanti udara di dalamnya semakin sedikit. Akibatnya akar tanaman tidak leluasa menyerap unsur hara. Untuk itu, tanah di sekitar tanaman perlu dikendurkan.

4. Pemupukan

Tanaman jambu mete dipupuk dengan pupuk kandang, kompos, atau pupuk buatan. Pemberian pupuk kandang / kompos dilakukan dengan cara menggali parit melingkar, diluar kanopi sebanyak ± 2 blok minyak tanah (± 20 kg). Pupuk dituangkan ke dalam parit dan ditutup dengan tanah. Pemupukan selanjutnya dilakukan dengan pupuk buatan.

5. Pemangkasan

Cara memangkas tanaman jambu mete dilakukan sebagai berikut:
  • Pucuk samping bibit dipangkas terus menerus hingga tinggi cabang mencapai 1 – 1,5 m dari permukaan tanah.
  • Pilih 3 – 5 cabang yang sehat dan dalam posisi yang baik terhadap batang utama.
  • Pemangkasan dilakukan sebelum tanaman berbunga. Pemangkasan untuk pemeliharaan dilakukan setelah tanaman berbuah.

6. Penjarangan

Penjarangan dilakukan secara bertahap saat tajuk tanaman saling menutupi. Jika jarak tanam 6 x 6 m dan ditanam secara monokultur, maka diperkirakan tajuk tanaman sudah menyentuh 6-10 tahun mendatang. Saat itu penjarangan dimulai.

5. Hama dan Penyakit

1. Hama

Biasanya hama yang sering menyerang tanaman jambu mete adalah pengisap daun, nyamuk daun, penggerek daun, penggulung daun, ulat kupu-kupu, ulat hijau, dan ulat perusak bunga. Contoh insektisida yang dianjurkan antara lain: Tamaron, Folidol, Lamnate, Basudin dan Dimecron dengan dosis 2cc atau 2 gram / liter air.
a. Ulat lipat (Cricula trisfenestrata Helf)
Di tanaman, Anda bisa melihat kepompong gantung. Ulatnya berwarna hitam dengan bintik-bintik putih, kepala dan ekornya berwarna merah menyala, dan seluruh tubuh ditutupi rambut putih. Telurnya berwarna putih, lonjong. Fase pupa berlangsung selama 4 minggu, fase pupa 3-5 minggu. Gejala: daun tidak utuh dan terdapat bekas gigitan; pada serangan yang ganas, daun mungkin benar-benar habis, tetapi tanaman tidak mati; tanaman tidak akan menghasilkan buah, dan baru pulih setelah 18 bulan.
Pengendalian: dengan menyemprotkan insektisida Symbush 50 EC atau Pumicidin dengan dosis 1,0 – 1,5 ml / liter air.
b. Helopeltis sp.
Badan imago berwarna hitam, kecuali punggung bawah perut yang berwarna putih. Gejala: pada pucuk daun muda, tangkai daun terdapat bercak hitam tidak rata; daun dan ranting langsung mengering dan diikuti rontoknya daun. Pengendalian: (1) melalui teknik bercocok tanam, misalnya dengan mengurangi tanaman inang atau tanaman peneduh; (2) dengan insektisida Agroline dengan dosis 0,2% atau Thiodan dengan dosis 0,02%.
c. Ulat penggerek batang (Plocaederus feeeugineus L)
Gejala: mula-mula daun menguning; lama kelamaan daun akan rontok / rontok dan tanaman bisa mati. Pengendalian: (1) dengan menangkap ulat penggerek ini; (2) dengan mengolesi sekeliling permukaan batang / akar dengan larutan BMC 1-2% (20 gram / liter air).
d. Hama penggerek buah dan biji (Nephoteryx sp.)
Gejala: buah muda yang terserang hama ini akan gugur dan mengering, sedangkan buah tua tidak kenyang. Pengendalian: cara yang benar belum ditemukan, karena larva instar terakhir jatuh dan menjadi kepompong di tanah, hama dapat diberantas secara mekanis atau kimiawi yaitu dengan menggunakan karbaril 0,15%.

2. Penyakit

Biasanya penyakit yang sering menyerang adalah busuk batang dan akar, penyakit bunga dan putik, serta antraknosa. Penyakit ini dapat dibasmi dengan fungisida Zinc Carmamate, Captacol dan Theophanatea.
a. Penyakit layu
Penyakit ini terjadi bila persemaian terlalu lembab dan jenuh air. Penyebab: jamur Phytophthora palmivora, Fusarium sp. dan Phytium sp. Gejala: saat tanaman tiba-tiba layu.
Pengendalian:
  • Perbaiki lingkungan persemaian, dengan cara seperti memperdalam saluran drainase dan mengurangi naungan yang terlalu rapat;
  • Kemudian dengan melakukan penyemprotan Dithane M 45 secara teratur dan terencana.
b. Daun layu dan kering
Penyebab: Bakteri Phytophthora solanacearum. Gejala: daun berubah warna dari hijau menjadi kuning lalu rontok; beberapa cabang layu dan tanaman itu akhirnya mati; jaringan kayu pada batang yang terkena di bawah kulit berwarna hitam atau biru tua dan berbau busuk. Pengendalian: tanaman yang terserang penyakit ini harus dibongkar hingga ke akarnya agar penyakit tidak menyebar ke tanaman lain; pencegahan harus terintegrasi; Benih dan alat pertanian harus bebas dari kontaminasi bakteri dan akibatnya harus dilakukan karantina tanaman.
c. Bunga dan buah busuk
  1. Penyebab:  Colletrichum sp., Botryodiplodia sp., Pestalotiopsis sp. Gejala: kulit hitam dan membusuk.
  2. Penyebab: Pestalotiopsis sp, Colletrichum sp, Pestalotiopsis sp., Botryodiplodia sp., Fusarium sp. Gejala: kulit buah & permukaan kulit biji, coklat kering & pecah-pecah, bunga & batang busuk.
  3. Penyebab: Botryodiplodia sp. , Fusarium sp., Pestalotiopsis sp. Gejala: kulit biji busuk dan berwarna hitam.
Pengendalian:
  1. Perlu dilakukan secara terintegrasi;
  2. Biasanya untuk membasmi jamur parasit ini, beberapa fungisida yang efektif adalah Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolan 4F, Cobox, dan Cuproxy Chloride.

6. Panen

1. Karakteristik dan Panen

Ciri-ciri buah jambu mete tua adalah sebagai berikut:
  • Warna kulit buah semu menjadi kuning, jingga, atau merah tergantung jenisnya. Biasanya ukuran buah semu lebih besar dari buah sejati. Tekstur daging buah lembut, rasa asam, agak manis, encer, dan aroma buah mirip dengan aroma strawberry.
  •  Warna kulit biji menjadi putih keabu-abuan dan mengkilat. Pada umumnya ketepatan panen dan penanganan kacang mete selama masa panen merupakan faktor penting. Tanaman jambu mete dapat dipanen pertama kali pada umur 3-4 tahun. Buah jambu mete biasanya sudah bisa dipetik pada umur 60-70 hari sejak munculnya bunganya. Masa panen berlangsung selama 4 bulan, mulai November hingga Februari tahun berikutnya. Agar kayu gelondongan / kacang mete berkualitas baik, buah yang dipetik harus sudah tua.

2. Cara Panen

Dan sampai saat ini, ada dua metode pemanenan yang umum dilakukan di berbagai sentra jambu mete di dunia, yaitu metode peleburan dan metode selektif.
a) Metode peleburan
Hal ini dilakukan dengan cara membiarkan buah jambu mete tua tetap berada di pohon dan tumbang dengan sendirinya atau petani menggoyangkan pohon tersebut sehingga buah yang tua tersebut akan gugur.
b) Cara selektif
Dilakukan secara selektif (buah dipilih langsung dan dipetik dari pohonnya). Jika buah tidak memungkinkan untuk dipetik langsung, pemanenan bisa dibantu dengan tiang dan tangga berkaki tiga.

3. Perkiraan Produksi

Jumlah tanaman tergantung pada umur tanam. Kacang mete berumur 3-4 tahun dapat menghasilkan 2-3 kg batang kayu kering / pohon. Hasil ini meningkat menjadi 15-20 kg / pohon pada umur 20-30 tahun. Tanaman jambu mete sebenarnya masih dapat berproduksi hingga umur 50 tahun, namun masa produktif paling banyak pada umur 25-30 tahun.

7. Pasca Panen

Kualitas kacang mete yang ada di pasaran cukup bervariasi. Variasi mutu kacang mete dipengaruhi antara lain oleh varietas tanaman jambu mete yang berbeda dan perlakuan serta pengawasan selama proses pengolahan. Banyaknya varietas tanaman jambu mete yang ditanam oleh petani Indonesia mengakibatkan kualitas jambu mete yang dihasilkan sangat bervariasi dari segi ukuran batang, warna, rasa, dan rendamen kacang mete.

1. Pengolahan kacang mete

Pengolahan kacang mete dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
  • Pemisahan batang kayu dari buah semu
  • Mencuci
  • Kualitas sortasi dan pengelasan
  • Pengeringan
  • Penyimpanan

2. Pengolahan Kacang Mete

Urutan pengolahan kacang mete adalah:
  • Melembabkan kacang mete
  • Memanggang kacang mete
  • Mengupas kulit kacang mete
  • Pengangkatan epidermis
  • Kualitas sortasi dan pengelasan
  • Pengemasan

Olahan Hasil Budidaya Jambu Mete

Kacang mete


Bahan – bahan :

  • 1 kg kacang mete mentah yang sudah dikupas kulitnya dengan alat pengupas mete.
  • 1,5 liter air
  • 2 sdm garam
  • Minyak secukupnya

Bumbu halus:

  • 5 siung bawang putih ukuran besar
  • 2 sdt garam
  • 1 sendok makan gula pasir
  • 2 sdm air

Cara Membuat Kacang Mete Goreng :

  1. Pertama siapkan wajan besar, dan selanjutnya panaskan airnya (1,5 liter), namun tidak perlu direbus, jadi panaskan saja. Jika sudah panas matikan kompor, masukkan kacang mete mentah, tambahkan 2 sendok makan garam, aduk sebentar, lalu diamkan kurleb selama 10-30 menit, hingga air keruh dan sekam yang masih menempel terkelupas. mati
  2. Kemudian cuci kacang tanah sambil membersihkan kulit ari yang membandel jika masih ada yang menempel.
  3. Tiriskan buncis, lalu campur dengan bumbu halus, aduk hingga rata, kemudian diamkan (masukkan ke dalam lemari es) minimal 1 jam (lebih lama lebih baik) lalu angkat, diamkan 10 menit, lalu goreng dengan api sedang hingga matang.
  4. Tiriskan buncis, setelah dingin, segera simpan di toples.


 PELUANG BERKEBUN KOPI LIBERIKA UNTUK PENGGANTI CENGKEH   Ratusan hektar kebun cengkeh di wilayah seperti Madiun dan Jombang dan juga Pacita...