Jumat, 28 April 2023

TANAMAN AREN (arenga pinnata) UNTUK KONSERVASI

 Aren (Arenga pinnata Merr.) adalah pohon serbaguna yang sejak lama telah dikenal menghasilkan bahan-bahan industri. Hampir semua bagian fisik dan produksi tumbuhan ini dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. 

Kegunaan aren dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat baik di dalam maupun di sekitar hutan melalui penggunaan secara tradisional. Namun sayang tumbuhan ini kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan, sehingga pohon aren yang dimanfaatkan pada umumnya masih merupakan tumbuhan yang tumbuh liar di alam dan berkembang secara alami. Kerusakan hutan dan konversi kawasan hutan untuk Peruntukan lain telah menyebabkan populasi tumbuhan ini berkurang dengan cepat karena tidak diimbangi dengan kegiatan budidaya yang memadai. 

Pemanfaatan produksi buah yang diolah untuk menghasilkan kolang kaling dan pemanfaatan tepung dalam batang masih dilakukan secara terbatas dan belum banyak memberikan manfaat kepada masyarakat. Pemanfaatan produksi nira sebagai minuman segar atau sebagai bahan baku pengolahan gula telah banyak melibatkan dan memberikan manfaat kepada masyarakat di dalam dan sekitar hutan, sedangkan untuk pengolahan cuka dan alkohol masih sangat terbatas dan bahkan pengolahan nira aren untuk produksi nata masih pada tingkat hasil penelitian.


Jenis produk yang dihasilkan dari pohon aren yaitu sebagai berikut :

  • Ijuk sebagai bahan baku pembuatan peralatan keperluan rumah tangga.
  • Nira sebagai bahan baku gula merah, tuak, dan cuka.
  • Kolang-kaling yang dihasilkan dari buah pohon aren.
  • Tepung aren sebagai bahan baku pembuatan sabun, mie, dawet (cendol).
  • Batang pohon sebagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.

 

Contoh analisa ekonomi hasil pohon aren hanya dari produksi niranya saja

Dengan memakai asumsi produksi yang alami saja misalkan 10 liter nira/hari/pohon; jika 100 pohon yang disadap setiap harinya (dari populasi 250 pohon setiap hektar), maka akan diperoleh nira 1.000 liter/hari/ha. Rendemen gula merah dari nira sekitar 20-26,5 %, artinya dari 1.000 liter maka akan diperoleh sekitar 200-265 kg gula merah setiap hari. Kalau harga di tingkat petani Rp 5.000/kg, maka setiap hari pendapatan kotor petani aren dengan areal 1 hektar akan memperoleh sekitar Rp 1.000.000/hari/ha sampai dengan Rp 1.325.000/hari/ha.

Cara Budidaya Tanaman Aren

Cara budidaya tanaman aren cukup mudah dan cukup membuahkan hasil karena memiliki banyak manfaat. Jika anda berminat maka dibawah ini adalah cara menanam tanaman aren diantaranya sebagai berikut :

1. Syarat Tumbuh

Tumbuhan ini hanya dapat tumbuh di daerah dengan iklim basah dan sedang dalam ketinggian hingga 1400 mdpl.

Akan tetapi, tumbuhan ini alangkah lebih sempurna jika di tanam pada ketinggian 500 – 800 mdpl pada kisaran curah hujan 1200 mm per tiap tahunnya.

Baca Juga : Syarat Tumbuh Tanaman Aren

2. Pembibitan Tanaman Aren

Bibit dari tumbuhan ini bisa anda dapatkan dari hasil regenerasi secara alami dari benih. Tanaman aren yang memiliki kondisi kesehatan sempurna akan sangat baik jika benihnya di gunakan untuk benih.

Anda bisa memilih buah aren yang memiliki tingkat kematangan cukup tinggi yakni berwarna coklat serta berdaging lunak.

Buah ini lebih baik memiliki ukuran hingga besaran minimal 4 cm. bibit harus berasal dari buah yang sehat tanpa terserang penyakit apapun.

Jika anda sudah menemukan buah tersebut maka belah dan ambil bijinya. Pilih biji yang memiliki ukuran besar dengan warna yang hitam dengan sedikit kecoklatan serta tidak memiliki potensi keriput.

3. Penyemaian Biji Benih

Biji yang sudah anda dapatkan terlebih dahulu disemai. Proses ini akan memerlukan waktu yang cukup lama. Akan tetapi anda bisa mempercepatnya dengan cara sebagai berikut :

  1. Biji direndam dengan larutan yang memiliki kandungan HCI dalam waktu hingga 25 menit.
  2. Rendamlah biji dengan suhu air 50 derajat yakni selama kisaran waktu 3 menit.
  3. Anda bisa menggunakan plastik sebagai media semai dengan kisaran ukuran 20 x 25 cm.
  4. Isilah media dengan kompos, pasr dan tanah (perbandingan 3: 1: 1).
  5. Harus ada lubang pada bagian pada media plastik.
  6. Masukan biji kedalam media yang disiapkan.

4. Pemeliharaan Bibit Semai Aren

Pada bibit yang sudah siap pakai harus memiliki ukuran kisaran 40 cm dengan jangka waktu semai   hingga 15 bulan.

Dalam waktu tersebut anda juga harus melakukan perawatan yakni dengan menyiram tanaman hingga 2 kali dalam sehari (pagi dan sore).

Kemudian, lakukan juga penyiangan dalam upaya untuk membuat gulma di dalam tumbuhan ini menghilang serta berbagai penyakit tidak mampu mendekat.

5. Penanaman tanaman Aren

Tanaman satu ini memiliki sistem tanam monokultur yang biasa di kenal dengan tumpang sari. Anda bisa menggunakan sistem olahan yang sesuai lahan yang tersedia yakni dengan membersihkan lahan dari tanaman sebagai hama.  Kemudian anda harus melakukan pembajakan untuk menggemburkan tanah.

Lubang harus di buat kisaran ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 5 x 5 m. Setelah itu anda bisa memberikan pupuk untuk setiap lubangnnya.

Pupuk yang di gunakan adalah pupuk kandang dan urea. Kemudian, biarkan hingga 3 sampai 5 hari setelah itu anda bisa melakukan proses penanaman. Untuk sistem tanam tumpang sari membutuhkan lahan untuk menanam aren dan pelindungnya.

6. Pemupukan Tanaman

Anda bisa melakukan proses pemupukan yang berguna untuk membuat rangsangan pada tumbuhan agar cepat tumbuh. Proses ini harus di aplikasikan pada tanaman yang memiliki umur kisaran 1 hingga 3 th.

Pada proses pemupukan anda bisa memanfaatkan pupuk kandang, urea dan pupuk lainnya (organik). Gunakan metode tabur untuk memupuk tanaman ini di bagian sekitar batang yang sudah dalam kondisi tanah gembur.

7. Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Aren

Hama pada tumbuhan ini adalah badak kumbang, kumbang sagu, belalang, lebah serta masih banyak lagi. Cara mengendalikan hama ini dengan menggunakan zat kimia atau juga bisa dengann cara mekanis.

Cara mekanis dengan cara memangkas batang pohon yang sudah terkontaminasi hama yang kemudian bagian tersebut di bakar.

Sedangkan, untuk metode zat kimia sendiri dengan cara menyemprot zat pestisida pada tanaman. Untuk mencegah penyakit pada tanaman ini maka anda bisa menyemprotkan zat fungisida pada tanaman tersebut.

8. Pencegahan Gulma

Anda bisa melakukan penyiangan hingga 4 kali pada tanaman yang sudah berusia 3 hingga 4 tahun.

Kesimpulan

Tanaman aren merupakan tanaman yang mudah tumbuh dalam kondisi lingkungan apapun oleh kerena itu dalam budidayanya tidaklah terlalu sulit yang terpenting harus adanya lahan yang cukup.

Hampir sebuah bagian pada tanaman aren bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Produk yang dihasilkan adalah batangnya yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, nira aren, bahan utama pembuatan gula merah, cuka, kolang kaling dan lainnya.

Jumat, 31 Maret 2023

AYO TANAM METE

 





Kacang mete saat ini tersebar di seluruh nusantara dengan sebutan nama yang berbeda-beda (di Sumatera Barat: kacang mete / monye jambu biji, di Lampung disebut gayu, di Jawa Barat disebut jambu mete, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamai jambu biji, di Jipang Bali atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut buah yaki.

Pedoman Budidaya Jambu Mete

1. Pembibitan

Untuk budidaya jambu mete dapat diperbanyak secara seksual melalui biji dan secara vegetatif dengan cara okulasi, okulasi, dan okulasi.
Bibit yang akan ditanam harus berasal dari pohon induk terpilih. Cara penanganan benih jambu mete untuk benih adalah:
  • Buah jambu mete / calon benih dipanen pada pertengahan musim panen.
  • Buah jambu mete harus sudah masak dan tidak cacat.
  • Biji jambu mete segera dikeluarkan dari buah semu lalu dicuci bersih, lalu disortir.
  • Keringkan biji jambu mete sampai kadar air 8-10%.
  • Saat dikemas dalam kantong plastik, aliran udara di ruang penyimpanan harus lancar dengan suhu antara 25-30 derajat C dan kelembaban: 70 -80%.
  • Lama penyimpanan benih selama ± 6 bulan, maksimal 8 bulan.
  • Sebelum ditanam benih (biji jambu mete) harus disemai terlebih dahulu.

2. Pengolahan Media Tanam

1. Persiapan

Sebelum tanam lahan harus dibersihkan terlebih dahulu, pH harus 4-6, tanah tanaman jambu mete sangat toleran terhadap lingkungan kering atau lembab, serta tanah kurang subur. Daerah dengan tanah liat, kacang mete masih bisa hidup dan berproduksi dengan baik. Jika penanaman kacang mete merupakan awal musim hujan, pengolahan sudah dimulai pada musim kemarau.

2. Pembukaan lahan

Lahan tersebut dibajak / ditambang sebelum musim hujan. Batang pohon dibuang dan dibakar, dan parit drainase dibuat untuk tanah yang drainasenya kurang baik. Lahan yang akan digunakan untuk budidaya kacang mete harus terbuka atau terkena sinar matahari dan dipersiapkan dengan sebaik mungkin.

3. Pemupukan

Pemberian pupuk kandang dimulai sebelum tanam. Sebaiknya bila tanaman masih kecil, pemupukan dengan pupuk kandang diulang dua kali setahun. Caranya dengan menggali lubang di sekitar batang, sedikit di luar lingkaran daun. pupuk atau kompos dimasukkan ke dalam lubang galian. Pemupukan selanjutnya dilakukan dengan cara menggali lubang, diluar lubang sebelumnya. Pemberian pupuk kandang dan kompos, kecuali dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah.

3. Teknik Penanaman

1. Penentuan Pola dan Jarak Tanam

Pada budidaya monokultur, jarak tanam yang dianjurkan adalah 12 x 12 m. Jadi di setiap satu ha lahan total jumlah tanaman yang dibutuhkan adalah 69 batang. Biasanya jarak tanam dibuat dengan ukuran 6 X 6 m, umumnya jumlah total tanaman yang dibutuhkan 276 batang / ha. Kepadatan tanaman kemudian diberi jarak pada umur 6-10 tahun.
Untuk efisiensi lahan, budidaya polikultur dapat diterapkan. Beberapa jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela. Misalnya palawija, rumput setaria, dan jambu mete. Bibit jambu mete hasil okulasi dapat ditanam dengan jarak 5 x 5 m, jika jarak tanam jambu mete 10 x 10 m. Kedua bentuk ini hanya bisa diaplikasikan di lahan datar. Pada lahan yang landai harus disesuaikan dengan garis kontur.
2. Pembuatan Lubang Tanam
Cara membuat lubang tanam:
  • Pertama tanah digali dengan ukuran: 30 x 30 x 30 cm. Jika tanah sangat liat maka dibuat lubang tanam dengan ukuran: 50 x 50 x 50 cm.
  • Lapisan batuan yang terdapat pada lubang tanam harus ditembus, agar akar dapat tumbuh sempurna dan terhindar dari genangan air.
  • Selama penggalian lubang, lapisan atas tanah dipisahkan ke Utara dan Selatan dan lapisan bawah ke Timur dan Barat.
  • Lubang tanam dibiarkan terbuka selama ± 4 minggu. Pada saat dilakukan penutupan lubang, lapisan tanah bagian bawah dikembalikan ke tempat semula, dilanjutkan lapisan atas yang dicampur dengan ± 1 pikul pupuk kandang.
  • Pada lubang tanam yang telah ditimbun dibuatkan peniti agar lubang tanam mudah ditemukan kembali.

3. Metode Penanaman

Penanaman bisa dilakukan 4-6 minggu setelah lubang tanam disiapkan. Untuk mengurangi keasaman tanahnya, maka alangkah baiknya pembuatan lubang tanam dilakukan pada musim kemarau. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
  • Benih yang akan ditanam dikeluarkan dari polybag. Tanah yang menempel pada akar dijaga agar tidak berantakan agar akar bibit tidak rusak.
  • Penanaman dilakukan sampai sebatas leher akar atau sedalam dulu di persemaian. Saat menggunakan benih hasil okulasi dan okulasi, pertahankan agar akar tunggang tetap lurus. Cobalah untuk menyebarkan akar cabang ke segala arah. Ujung yang patah / rusak harus dipotong.
  • Tanah di sekitar batang dipadatkan dan diratakan agar tidak ada rongga udara di antara akar dan tidak terjadi genangan air. Tanaman perlu ditopang bambu agar bisa tumbuh tegak.

4. Pemeliharaan Tanaman

1. Percikan

Bibit yang baru ditanam membutuhkan banyak air. Makan tanaman perlu disiram pada pagi dan sore hari secara rutin. Penyiraman dilakukan secukupnya dan penyiraman tidak sampai menggenangi tanaman.

2. Jahitan

Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 tahun. Jika umur tanaman ³ 3 tahun, umumnya pertumbuhan tanaman bordir kurang baik atau akan terhambat.

3. Penyiangan dan penyiraman

Biji jambu mete mulai berdaun dan bertunas setelah 2-3 bulan tanam. Penghapusan gulma harus dilakukan setiap 45 hari sekali. Untuk tanah yang disiram setiap hari maka semakin padat dan nanti udara di dalamnya semakin sedikit. Akibatnya akar tanaman tidak leluasa menyerap unsur hara. Untuk itu, tanah di sekitar tanaman perlu dikendurkan.

4. Pemupukan

Tanaman jambu mete dipupuk dengan pupuk kandang, kompos, atau pupuk buatan. Pemberian pupuk kandang / kompos dilakukan dengan cara menggali parit melingkar, diluar kanopi sebanyak ± 2 blok minyak tanah (± 20 kg). Pupuk dituangkan ke dalam parit dan ditutup dengan tanah. Pemupukan selanjutnya dilakukan dengan pupuk buatan.

5. Pemangkasan

Cara memangkas tanaman jambu mete dilakukan sebagai berikut:
  • Pucuk samping bibit dipangkas terus menerus hingga tinggi cabang mencapai 1 – 1,5 m dari permukaan tanah.
  • Pilih 3 – 5 cabang yang sehat dan dalam posisi yang baik terhadap batang utama.
  • Pemangkasan dilakukan sebelum tanaman berbunga. Pemangkasan untuk pemeliharaan dilakukan setelah tanaman berbuah.

6. Penjarangan

Penjarangan dilakukan secara bertahap saat tajuk tanaman saling menutupi. Jika jarak tanam 6 x 6 m dan ditanam secara monokultur, maka diperkirakan tajuk tanaman sudah menyentuh 6-10 tahun mendatang. Saat itu penjarangan dimulai.

5. Hama dan Penyakit

1. Hama

Biasanya hama yang sering menyerang tanaman jambu mete adalah pengisap daun, nyamuk daun, penggerek daun, penggulung daun, ulat kupu-kupu, ulat hijau, dan ulat perusak bunga. Contoh insektisida yang dianjurkan antara lain: Tamaron, Folidol, Lamnate, Basudin dan Dimecron dengan dosis 2cc atau 2 gram / liter air.
a. Ulat lipat (Cricula trisfenestrata Helf)
Di tanaman, Anda bisa melihat kepompong gantung. Ulatnya berwarna hitam dengan bintik-bintik putih, kepala dan ekornya berwarna merah menyala, dan seluruh tubuh ditutupi rambut putih. Telurnya berwarna putih, lonjong. Fase pupa berlangsung selama 4 minggu, fase pupa 3-5 minggu. Gejala: daun tidak utuh dan terdapat bekas gigitan; pada serangan yang ganas, daun mungkin benar-benar habis, tetapi tanaman tidak mati; tanaman tidak akan menghasilkan buah, dan baru pulih setelah 18 bulan.
Pengendalian: dengan menyemprotkan insektisida Symbush 50 EC atau Pumicidin dengan dosis 1,0 – 1,5 ml / liter air.
b. Helopeltis sp.
Badan imago berwarna hitam, kecuali punggung bawah perut yang berwarna putih. Gejala: pada pucuk daun muda, tangkai daun terdapat bercak hitam tidak rata; daun dan ranting langsung mengering dan diikuti rontoknya daun. Pengendalian: (1) melalui teknik bercocok tanam, misalnya dengan mengurangi tanaman inang atau tanaman peneduh; (2) dengan insektisida Agroline dengan dosis 0,2% atau Thiodan dengan dosis 0,02%.
c. Ulat penggerek batang (Plocaederus feeeugineus L)
Gejala: mula-mula daun menguning; lama kelamaan daun akan rontok / rontok dan tanaman bisa mati. Pengendalian: (1) dengan menangkap ulat penggerek ini; (2) dengan mengolesi sekeliling permukaan batang / akar dengan larutan BMC 1-2% (20 gram / liter air).
d. Hama penggerek buah dan biji (Nephoteryx sp.)
Gejala: buah muda yang terserang hama ini akan gugur dan mengering, sedangkan buah tua tidak kenyang. Pengendalian: cara yang benar belum ditemukan, karena larva instar terakhir jatuh dan menjadi kepompong di tanah, hama dapat diberantas secara mekanis atau kimiawi yaitu dengan menggunakan karbaril 0,15%.

2. Penyakit

Biasanya penyakit yang sering menyerang adalah busuk batang dan akar, penyakit bunga dan putik, serta antraknosa. Penyakit ini dapat dibasmi dengan fungisida Zinc Carmamate, Captacol dan Theophanatea.
a. Penyakit layu
Penyakit ini terjadi bila persemaian terlalu lembab dan jenuh air. Penyebab: jamur Phytophthora palmivora, Fusarium sp. dan Phytium sp. Gejala: saat tanaman tiba-tiba layu.
Pengendalian:
  • Perbaiki lingkungan persemaian, dengan cara seperti memperdalam saluran drainase dan mengurangi naungan yang terlalu rapat;
  • Kemudian dengan melakukan penyemprotan Dithane M 45 secara teratur dan terencana.
b. Daun layu dan kering
Penyebab: Bakteri Phytophthora solanacearum. Gejala: daun berubah warna dari hijau menjadi kuning lalu rontok; beberapa cabang layu dan tanaman itu akhirnya mati; jaringan kayu pada batang yang terkena di bawah kulit berwarna hitam atau biru tua dan berbau busuk. Pengendalian: tanaman yang terserang penyakit ini harus dibongkar hingga ke akarnya agar penyakit tidak menyebar ke tanaman lain; pencegahan harus terintegrasi; Benih dan alat pertanian harus bebas dari kontaminasi bakteri dan akibatnya harus dilakukan karantina tanaman.
c. Bunga dan buah busuk
  1. Penyebab:  Colletrichum sp., Botryodiplodia sp., Pestalotiopsis sp. Gejala: kulit hitam dan membusuk.
  2. Penyebab: Pestalotiopsis sp, Colletrichum sp, Pestalotiopsis sp., Botryodiplodia sp., Fusarium sp. Gejala: kulit buah & permukaan kulit biji, coklat kering & pecah-pecah, bunga & batang busuk.
  3. Penyebab: Botryodiplodia sp. , Fusarium sp., Pestalotiopsis sp. Gejala: kulit biji busuk dan berwarna hitam.
Pengendalian:
  1. Perlu dilakukan secara terintegrasi;
  2. Biasanya untuk membasmi jamur parasit ini, beberapa fungisida yang efektif adalah Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolan 4F, Cobox, dan Cuproxy Chloride.

6. Panen

1. Karakteristik dan Panen

Ciri-ciri buah jambu mete tua adalah sebagai berikut:
  • Warna kulit buah semu menjadi kuning, jingga, atau merah tergantung jenisnya. Biasanya ukuran buah semu lebih besar dari buah sejati. Tekstur daging buah lembut, rasa asam, agak manis, encer, dan aroma buah mirip dengan aroma strawberry.
  •  Warna kulit biji menjadi putih keabu-abuan dan mengkilat. Pada umumnya ketepatan panen dan penanganan kacang mete selama masa panen merupakan faktor penting. Tanaman jambu mete dapat dipanen pertama kali pada umur 3-4 tahun. Buah jambu mete biasanya sudah bisa dipetik pada umur 60-70 hari sejak munculnya bunganya. Masa panen berlangsung selama 4 bulan, mulai November hingga Februari tahun berikutnya. Agar kayu gelondongan / kacang mete berkualitas baik, buah yang dipetik harus sudah tua.

2. Cara Panen

Dan sampai saat ini, ada dua metode pemanenan yang umum dilakukan di berbagai sentra jambu mete di dunia, yaitu metode peleburan dan metode selektif.
a) Metode peleburan
Hal ini dilakukan dengan cara membiarkan buah jambu mete tua tetap berada di pohon dan tumbang dengan sendirinya atau petani menggoyangkan pohon tersebut sehingga buah yang tua tersebut akan gugur.
b) Cara selektif
Dilakukan secara selektif (buah dipilih langsung dan dipetik dari pohonnya). Jika buah tidak memungkinkan untuk dipetik langsung, pemanenan bisa dibantu dengan tiang dan tangga berkaki tiga.

3. Perkiraan Produksi

Jumlah tanaman tergantung pada umur tanam. Kacang mete berumur 3-4 tahun dapat menghasilkan 2-3 kg batang kayu kering / pohon. Hasil ini meningkat menjadi 15-20 kg / pohon pada umur 20-30 tahun. Tanaman jambu mete sebenarnya masih dapat berproduksi hingga umur 50 tahun, namun masa produktif paling banyak pada umur 25-30 tahun.

7. Pasca Panen

Kualitas kacang mete yang ada di pasaran cukup bervariasi. Variasi mutu kacang mete dipengaruhi antara lain oleh varietas tanaman jambu mete yang berbeda dan perlakuan serta pengawasan selama proses pengolahan. Banyaknya varietas tanaman jambu mete yang ditanam oleh petani Indonesia mengakibatkan kualitas jambu mete yang dihasilkan sangat bervariasi dari segi ukuran batang, warna, rasa, dan rendamen kacang mete.

1. Pengolahan kacang mete

Pengolahan kacang mete dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
  • Pemisahan batang kayu dari buah semu
  • Mencuci
  • Kualitas sortasi dan pengelasan
  • Pengeringan
  • Penyimpanan

2. Pengolahan Kacang Mete

Urutan pengolahan kacang mete adalah:
  • Melembabkan kacang mete
  • Memanggang kacang mete
  • Mengupas kulit kacang mete
  • Pengangkatan epidermis
  • Kualitas sortasi dan pengelasan
  • Pengemasan

Olahan Hasil Budidaya Jambu Mete

Kacang mete


Bahan – bahan :

  • 1 kg kacang mete mentah yang sudah dikupas kulitnya dengan alat pengupas mete.
  • 1,5 liter air
  • 2 sdm garam
  • Minyak secukupnya

Bumbu halus:

  • 5 siung bawang putih ukuran besar
  • 2 sdt garam
  • 1 sendok makan gula pasir
  • 2 sdm air

Cara Membuat Kacang Mete Goreng :

  1. Pertama siapkan wajan besar, dan selanjutnya panaskan airnya (1,5 liter), namun tidak perlu direbus, jadi panaskan saja. Jika sudah panas matikan kompor, masukkan kacang mete mentah, tambahkan 2 sendok makan garam, aduk sebentar, lalu diamkan kurleb selama 10-30 menit, hingga air keruh dan sekam yang masih menempel terkelupas. mati
  2. Kemudian cuci kacang tanah sambil membersihkan kulit ari yang membandel jika masih ada yang menempel.
  3. Tiriskan buncis, lalu campur dengan bumbu halus, aduk hingga rata, kemudian diamkan (masukkan ke dalam lemari es) minimal 1 jam (lebih lama lebih baik) lalu angkat, diamkan 10 menit, lalu goreng dengan api sedang hingga matang.
  4. Tiriskan buncis, setelah dingin, segera simpan di toples.


Jumat, 23 Desember 2022

REHABILITASI MANGROVE

 Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan guna meningkatkan daya dukung, produktivitas, dan peranannya dalam menjaga sistem penyangga kehidupan.

Rehabilitasi mangrove bertujuan memulihkan kawasan hutan mangrove yang mengalami kerusakan, meningkatkan tutupan hutan mangrove serta meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat



Hutan mangrove dapat menyimpan karbon 4-5 kali lipat lebih banyak daripada hutan tropis daratan sehingga akan berkontribusi besar pada penyerapan emisi karbon.

Rehabilitasi wilayah pantai berpasir merupakan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi pantai yang sebelumnya telah mengalami kerusakan melalui kegiatan revegetasi dengan jenis-jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat (Wibisono, 2015). Kegiatan rehabilitasi wilayah pantai berpasir yang mempertimbangkan banyak aspek tentu tidak mudah dan diperlukan formulasi serta strategi yang sesuai dengan keadaan lapangan untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi tersebut. Langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan penerapan rekayasa silvikultur. Rekayasa silvikultur merupakan suatu teknik atau metode yang dilakukan pada suatu lingkungan tempat tumbuh agar suatu pohon dapat tumbuh dengan layak (Danarto, 2021). 


 

Penanaman mangrove harus memperhatikan 3 aspek penting, yaitu ekologi, sosial, dan ekonomi. Secara ekologi, pemulihan mangrove perlu memperhatikan kondisi lahan dengan kesesuaian jenis mangrove yang ditanam, sehingga bibit mangrove dapat bertahan dan beradaptasi di lokasi tanam. Hal ini disebut dengan zonasi mangrove. Indonesia memiliki kekayaan jenis mangrove tertinggi di dunia. Namun, ketika jenis mangrove tertentu ditanam bukan pada habitatnya, walau masih pada ekosistem mangrove, maka mangrove yang ditanam tidak akan tumbuh maksimal, bahkan mati.

 

Secara sosial, pelibatan masyarakat sekitar pada kegiatan rehabilitasi mangrove menjadi penting. Pegiat CSR harus menempatkan masyarakat setempat sebagai subyek sekaligus mitra untuk mencapai tujuan bersama. “Dari awal, semua pihak harus memiliki mindset bahwa tanggung jawab dan keberhasilan harus ditanggung dan dirasakan bersama,

 

Terkait aspek ekonomi, program rehabilitasi mangrove dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan budi daya perikanan, ekowisata, dan pengelolaan buah mangrove menjadi kuliner khas daerah setempat. Area rehabilitasi mengrove yang berhasil dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata oleh Yayasan KEHATI antara lain, Desa Pandansari Brebes di Jawa tengah, Desa Binanga Kabupaten Majene Sulawesi Selatan, dan beberapa daerah lain yang sedang dalam proses pengembangan.



 

“Secara garis besar, ketepatan dalam mengonsepkan program rehabilitasi mangrove merupakan kunci sukses keberhasilan rehabilitasi mangrove. Hal ini dimulai dari penyusunan perencanaan, implementasi dan monitoring serta evaluasi program rehabilitasi dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi



Selasa, 29 November 2022

AYO TANAM POHON UNTUK MASA DEPAN KITA

 Green Nature diadakan dengan tujuan untuk tetap melestarikan lingkungan untuk generasi di masa mendatang  Menanam pohon tidak hanya berguna di masa kini melainkan juga di masa depan 


.

Pohon mempunyai fungsi yang sangat penting dalam upaya meredam kenaikan gas rumah kaca penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim. Seperti spons/busa, pohon menyerap karbondioksida yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia dan makhluk hidup lainnya. Fungsi pohon ini dijalankan dengan sangat masif oleh hutan

Jumlah hutan yang semakin menyusut ditambah dengan produksi emisi yang semakin banyak semakin membuat atmosfer bumi panas dan mempercepat terjadinya perubahan iklim. Pemerintah Indonesia mengambil tindakan untuk menanggulangi kerusakan hutan ini dengan mengajak masyarakat Indonesia menanam pohon.




Kegiatan menanam pohon sangat berguna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menanam pohon dan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga dapat menurunkan pemanasan global.

Menanam pohon merupakan bentuk kepedulian dan kecintaan manusia terhadap bumi. Dengan pohon dan hutan yang baik, maka akan memberikan kesejahteraan yang baik pula untuk manusia

Hari ini kita menanam, generasi berikut akan menikmati hasil yang kita tanam hari ini, maka tanamlah dengan ketulusan dan keikhlasan. Kita hijaukan tanah ini. Kita tanami pepohonan berbagai jenis pohon,



JANGAN merasa apa yang kita peroleh saat ini merupakan warisan nenek moyang. Ini pinjaman dari generasi yang akan datang




.

Senin, 24 Oktober 2022

KONSERVASI DENGAN BERTANAM PANILI

 


Pada masa kini pengelolaan penanganan lahan kritis dilakukan dengan berbagai cara baik secara vegetative melalui penanaman pohon maupun secara sipil teknis melalui bangunan konservasi air dan tanah. Dalam kegiatan rehabilitasi dapat dilakukan dengan menanam baik melalui dana swadaya, bantuan perusahaan, maupun bantuan pemerintah. Salah satu metode konservasi yang dapat dikembangkan yaitu dengan rehabilitasi lahan melalui bertanam panili



Dengan penanaman panili di lahan kosong tentunya pasti menanam tajar untuk rambatan panili..jadi tanaman glereside atau tnaman apapun tajarnya pasti akan dibiarkan hidup sampai 15-20 tahun  adapun manfaat dari akonservasi jenis ini sebagai berikut : a. Masyarakat terlibat secara langsung dalam penanganan rehabilitasi lahan dan dapat memberikan perhatian secara penuh terhadap pohon  naungan panili, baik melalui pemupukan atau penanganan penyakit terhadap pohon tersebut sehingga keberlangsungan tumbuh pohon dapat terjamin.

B. Sebagai langkah nyata dalam mengurangi emisi karbon atau gas rumah kaca melalui penanaman pohon.

c.. Upaya meningkatkan nilai estetika atau nilai keindahan/manfaat dari suatu taman atau hutan kota maupun ruang terbuka hijau lainnya. Jenis tanaman yang dapat dikembangkan sebagai tajar yaitu glereside,lamtoro,indigofera yang tentunya tanaman tersebut di samping bermanfaat untuk konservasi juga dapat sebagai pakan ternak.

 Pemanfaatan lahan kosong untuk penanaman panili juga berkontribusi besar terhadap upaya konservasi tanah di luar kawasan hutan

Untuk mengekplorasi hubungan antara tanaman vanili dengan konservasi kehutanan ternyata sangat erat dan saling berkontribusi dengan  biodersivitas suatu kawasan. Perkebunan vanili di indonesia masih sangat terbatas,,untuk itu sangat perlu di kembangkan untuk kemakmuran rakyat yang tentunya sangat mendukung upaya konservasi tanah dengan penanaman tanaman vegetatif sebelum bertanam vanili agar tanaman vanili hidup dan tumbuh memuaskan.



Dari berbagai penelitian di ketemukan bahwa bertanam vanili  secara agroforestry di lahan lahan kosong di temukan  dapat meningkastkan biodevisitas lahan yang cukup baik dan  sangat membantu nmeningkatkan perekonomian masyarakat. Mengingat setiap menanam panili maka harus menanam tanaman penaung dan menanam vanili juga dapat dilakukan dengan dikelola secara organik dan ramah terhadap lingkungan

Untuk penanaman panili di lahan kritis tentunya denagn pola agroforestry tetap akan tumbuh baik dan menguntungkan.

Kamis, 15 September 2022

PEMASARAN HASIL AGROFORESTRY

 Produksi kayu sengon rakyat di pulau Jawa mengalami peningkatan terutama hingga tahun 2007 diiringi dengan peningkatan harga pada berbagai tingkat pelaku usaha sengon.



 Peningkatan permintaan kayu sengon diduga disebabkan oleh semakin berkurangnya pasokan kayu dari luar jawa, menurunnya produksi kayu dari kawasan hutan negara (Perum Perhutani) dan semakin meningkatnya pangsa pasar dan jumlah unit industri yang membutuhkan bahan baku kayu sengon untuk berbagai jenis produk seperti kayu bangunan, moulding, papan lamina dan kayu lapis. 


Hal tersebut menyebabkan kenaikan harga kayu sengon di setiap titik daripada rantai tata niaga kayu semgon di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung, dimana pelaku pemasaran kayu sengon terdiri atas petani, penebas, depo, supplier dan industri. 



Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa share keuntungan paling rendah diterima oleh petani. Guna menjaga ksinambungan usaha hutan rakyat sengon, maka diperlukan upaya perlindungan kepada petani dari pihak pemerintah dan upaya penguatan kelembagaan petani misalnya dengan membentuk kelembagaan usaha bersama (mitra) antara petani dengan pihak pengusaha industri pengolahan kayu sengon. 

Dalam kaitannya dengan dengan Permenhut tentang tata usaha kayu rakyat No P.51/2006, P. 62/2006 dan P 33/2007 disarankan agar dibangun koordinasi yang baik antara pemerintah pusat (Dephut) dan Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur,  dalam meningkatkan penataan dan pembinaan pengusahaan hutan rakyat sengon.


 PELUANG BERKEBUN KOPI LIBERIKA UNTUK PENGGANTI CENGKEH   Ratusan hektar kebun cengkeh di wilayah seperti Madiun dan Jombang dan juga Pacita...